Skip to content

Neurodiversitas: Mengenal ADHD dan Autisme di Indonesia

Ilustrasi beberapa figur manusia dengan simbol unik di atasnya menggambarkan neurodiversitas dan perbedaan cara otak bekerja

PERHATIAN KONTEN: Artikel ini membahas neurodiversitas, termasuk ADHD dan autisme, dalam konteks kesehatan mental dan identitas diri. Jika kamu baru mengenali dirimu sebagai neurodivergent, artikel ini bisa membangkitkan perasaan yang campur aduk. Kamu boleh membacanya perlahan, atau kembali lagi saat kamu siap.

Pernahkah kamu merasa otakmu bekerja dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang di sekitarmu, dan selama bertahun-tahun, kamu menyebutnya sebagai “kelemahan”?

Mungkin kamu kesulitan fokus meski sudah sangat berusaha. Mungkin kamu membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses percakapan sosial. Mungkin kamu hypersensitive terhadap suara, cahaya, atau tekstur tertentu.

Dan mungkin kamu tumbuh dengan label “terlalu sensitif,” “kurang disiplin,” atau bahkan “aneh.” Konsep neurodiversitas menawarkan cara pandang yang berbeda, bahwa variasi neurologis adalah bagian dari keragaman manusia, bukan kekurangan yang perlu diperbaiki.

Apa itu neurodiversitas?

Neurodiversity atau neurodiversitas adalah istilah yang dicetuskan oleh sosiolog Judy Singer pada akhir 1990-an untuk menggambarkan gagasan bahwa perbedaan dalam cara otak berfungsi adalah variasi alami dalam spesies manusia, bukan penyakit.

Orang yang otaknya bekerja dengan cara yang berbeda dari standar neurotipikal disebut neurodivergent. Kondisi yang termasuk dalam spektrum neurodiversitas antara lain:

  • ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah kesulitan mempertahankan perhatian, impulsivitas, dan/atau hiperaktivitas yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
  • Autisme (Autism Spectrum Condition) adalah perbedaan dalam pemrosesan sosial, komunikasi, dan sensori yang hadir dalam spektrum yang sangat luas.
  • Disleksia adalah perbedaan dalam pemrosesan bahasa yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis, terlepas dari tingkat kecerdasan.
  • Dispraksia (Developmental Coordination Disorder) merupakan kesulitan dalam koordinasi motorik dan perencanaan gerakan.

Wajar kalau kamu belum pernah mendengar istilah-istilah ini sebelumnya. Di Indonesia, kesadaran tentang neurodiversitas masih sangat terbatas dan banyak orang dewasa baru mengenali dirinya sebagai neurodivergent setelah puluhan tahun berjuang tanpa tahu mengapa.

Konteks Indonesia: mengapa neurodiversitas sering tak terlihat?

Di banyak budaya, termasuk Indonesia, standar “normal” yang berlaku di sekolah, tempat kerja, dan keluarga sangat sempit dan kaku.

Sistem pendidikan yang menekankan keseragaman, ekspektasi sosial untuk “membaca ruangan” dengan cepat, dan stigma terhadap perbedaan perilaku membuat banyak anak neurodivergent tumbuh dengan cara belajar menyembunyikan diri mereka.

Proses ini disebut masking atau menyembunyikan atau menutupi karakteristik neurodivergent agar terlihat “normal.” Masking membutuhkan energi mental yang sangat besar, dan dampaknya bisa sangat berat yakni kelelahan kronis, kecemasan, depresi, dan kehilangan rasa diri.

Banyak orang yang telah melakukan masking selama bertahun-tahun bahkan tidak lagi tahu bagaimana rasanya menjadi diri mereka sendiri. Ini adalah respons adaptif yang sangat logis terhadap lingkungan yang tidak memberi ruang untuk perbedaan.

Diagnosis terlambat: pengalaman yang umum dirasakan

Di Indonesia, diagnosis ADHD atau autisme pada orang dewasa masih relatif jarang. Bukan karena kondisi ini jarang terjadi, tapi karena akses ke profesional yang memahaminya terbatas, biayanya mahal, dan kesadaran masyarakat yang masih rendah.

Banyak perempuan terutama sering tidak terdiagnosis karena gejala mereka cenderung berbeda dari gambaran “khas” yang didominasi penelitian pada laki-laki.

Jika kamu baru-baru ini mengenali kemungkinan bahwa kamu neurodivergent baik melalui penelusuran mandiri, obrolan dengan teman, atau konten yang kebetulan kamu temukan, perasaan itu sah.

Perasaanmu valid, campuran antara lega (“jadi ini namanya!”), duka (“kenapa baru tahu sekarang?”), dan bahkan keraguan (“mungkin aku berlebihan”). Semua itu wajar untuk hadir bersamaan.

Neurodiversitas: Mengenal ADHD dan Autisme di Indonesia

Dari defisit ke identitas: pergeseran cara pandang

Model medis tradisional cenderung memandang kondisi neurodivergent sebagai gangguan yang perlu diobati atau “diperbaiki.”

Model neurodiversitas tidak menyangkal bahwa kondisi ini bisa menghadirkan tantangan nyata tapi ia menawarkan kerangka yang berbeda, bahwa otak yang bekerja berbeda juga punya kekuatan yang unik, dan bahwa banyak dari kesulitan yang dihadapi orang neurodivergent berasal dari lingkungan yang tidak dirancang untuk mengakomodasi mereka, bukan semata dari “ketidakmampuan” mereka.

Pergeseran cara pandang ini penting karena memengaruhi bagaimana seseorang membangun identitas dan harga diri mereka. Alih-alih terus bertanya “apa yang salah dengan diriku?”, pertanyaannya bisa bergeser menjadi “lingkungan apa yang membuatku bisa berkembang?”

Neurodiversitas bukan alasan, tapi konteks

Penting untuk disampaikan bahwa mengenali diri sebagai neurodivergent bukan berarti menyerah pada tantangan, atau menggunakannya sebagai pembenar untuk tidak berkembang.

Sebaliknya, pemahaman ini memberi konteks yang lebih jujur tentang kebutuhan dan cara belajarmu sehingga kamu bisa mencari strategi yang benar-benar sesuai dengan cara otakmu bekerja, bukan terus memaksakan diri mengikuti sistem yang tidak dirancang untukmu.

Kamu boleh memiliki kebutuhan yang berbeda. Kamu boleh meminta akomodasi. Kamu boleh mengakui bahwa beberapa hal lebih berat bagimu tanpa harus merasa malu.

Langkah-langkah yang bisa membantu

Mencari informasi yang terpercaya

Jika kamu curiga dirimu neurodivergent, mulailah dengan mencari informasi dari sumber yang kredibel dan inklusif. Komunitas online seperti forum ADHD atau autisme berbahasa Indonesia yang dikelola oleh orang-orang dengan pengalaman hidup langsung bisa menjadi titik awal yang baik.

Kamu tidak perlu diagnosis resmi untuk mulai mengenali dirimu sendiri, meski diagnosis bisa membantu akses ke dukungan yang lebih terstruktur.

Memberikan ruang untuk berduka

Mengenali diri sebagai neurodivergent sering datang bersama rasa duka atas tahun-tahun yang dihabiskan berjuang tanpa pemahaman, atas relasi yang terdampak, atas versi diri yang mungkin pernah kamu bayangkan.

Memberi ruang untuk berduka atas hal ini adalah bagian yang sah dari proses, bukan kemunduran. Kamu bisa membaca lebih lanjut tentang ambiguous loss atau kehilangan yang tidak diakui yakni sebuah jenis duka yang sangat relevan dengan pengalaman ini.

Mencari komunitas dan dukungan profesional

Menemukan orang lain yang memiliki pengalaman serupa bisa mengubah segalanya. Komunitas neurodivergent yang suportif membantu memutus rasa isolasi dan memberikan validasi yang sering tidak didapat dari lingkungan umum.

Jika memungkinkan, mencari psikolog atau psikiater yang memahami neurodiversitas, bukan yang langsung berfokus pada “memperbaiki” kamu, juga sangat dianjurkan.

Kamu bisa juga membaca tentang internalized stigma untuk memahami bagaimana penghakiman dari luar bisa berubah menjadi suara di dalam kepalamu sendiri.

Butuh seseorang untuk diajak bicara sekarang?

Into The Light Indonesia: 119 ext. 8 (tersedia 24 jam)
Yayasan Pulih: (021) 788-42580

Kamu tidak harus melewati ini sendirian.

Jika kamu tahu sejak dulu bahwa otakmu bekerja dengan cara yang berbeda, dan itu bukan kekurangan, kira-kira, apa yang akan berubah dalam cara kamu memperlakukan dirimu sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *