Skip to content

Autisme pada Perempuan Dewasa: Mengapa Sering Terlewat Terdiagnosis

PERHATIAN KONTEN: Artikel ini membahas, autisme pada perempuan dewasa, diagnosis terlambat dan pengalaman tidak terlihat dalam sistem, yang mungkin memicu respons emosional. Bacalah dengan kecepatan yang nyaman untukmu, dan boleh berhenti kapan saja kalau kamu butuh jeda.

Mungkin kamu sudah lama merasa ada sesuatu yang “berbeda” dalam dirimu, tapi tidak tahu namanya. Kamu selalu merasa kelelahan setelah bersosialisasi, sangat peka terhadap perubahan rencana, atau perlu usaha ekstra untuk membaca situasi sosial yang terasa “otomatis” bagi orang lain.

Bertahun-tahun kamu berusaha menyesuaikan diri, belajar meniru cara orang-orang di sekitarmu bersikap, dan menyimpan keletihan itu sendirian.

Bagi banyak perempuan dengan autisme, perjalanan menuju diagnosis bisa memakan waktu puluhan tahun. Bukan karena mereka tidak sungguh-sungguh mencari jawaban, tetapi karena sistem yang ada sejak awal tidak dirancang untuk mengenali mereka.

Mengapa autisme pada perempuan sering tidak terdeteksi?

Selama beberapa dekade, penelitian tentang autisme sebagian besar dilakukan pada anak laki-laki. Akibatnya, gambaran “standar” autisme yang kita kenal seperti sulit melakukan kontak mata, minat yang sangat spesifik dan terlihat jelas, respons sosial yang minim, lebih mencerminkan pola yang lebih umum muncul pada laki-laki.

Perempuan dengan autisme sering kali tidak masuk dalam gambar itu. Penelitian terkini menunjukkan bahwa perempuan autistik lebih sering melakukan masking atau camouflaging, yaitu menyembunyikan atau menutupi karakteristik autistik mereka secara sadar maupun tidak sadar.

Mereka belajar mengamati orang lain, meniru ekspresi wajah, menghafal “skrip” percakapan, dan beradaptasi agar terlihat “normal”. Hasilnya, dari luar mereka tampak baik-baik saja. Padahal di dalam, ada kelelahan yang sangat nyata.

Wajar kalau kamu merasa tidak dimengerti selama ini. Bukan kamu yang salah membaca dirimu sendiri tapi alat ukurnya yang tidak cukup mengenalimu.

Tanda-tanda yang sering terlewat

Berbeda dari gambaran autisme yang selama ini banyak dikenal, perempuan autistik dewasa mungkin menunjukkan tanda-tanda yang lebih halus dan mudah disalahartikan, seperti berikut:

  • Kelelahan sosial yang intens. Berinteraksi dengan orang lain membutuhkan energi besar, bahkan dalam situasi yang tampak menyenangkan. Setelah pertemuan sosial, kamu butuh waktu lama untuk pulih sendirian.
  • Sensitivitas sensorik. Suara, cahaya, tekstur pakaian, atau aroma tertentu terasa sangat mengganggu jauh melebihi yang dialami orang-orang di sekitarmu. Ini bukan lebay, ini adalah cara sistem sarafmu bekerja.
  • Minat yang dalam dan intens. Kamu bisa tenggelam sepenuhnya dalam topik atau aktivitas tertentu selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Orang lain mungkin menyebutnya “terlalu obsesif”, padahal ini bagian dari cara otakmu menikmati dunia.
  • Kesulitan dengan perubahan mendadak. Rencana yang berubah tiba-tiba, situasi yang tidak terduga, atau transisi antar aktivitas terasa sangat menguras dan memicu kecemasan yang nyata.
  • Kesulitan membaca isyarat sosial implisit. Sarkasme, nada suara yang berubah halus, atau “aturan tidak tertulis” dalam pergaulan sering kali tidak terasa jelas bagimu meski kamu sudah berusaha sangat keras untuk memahaminya.

Banyak dari tanda ini, ketika muncul pada perempuan, lebih sering didiagnosis sebagai kecemasan, depresi, atau gangguan kepribadian. Bukan karena tenaga kesehatan bermaksud buruk, tapi karena pengetahuan tentang profil autisme pada perempuan masih belum merata.

Dampak dari diagnosis yang terlambat

Hidup bertahun-tahun tanpa nama untuk apa yang kamu alami punya dampak yang nyata. Banyak perempuan yang akhirnya mendapat diagnosis autisme di usia dewasa menceritakan perasaan yang kompleks.

Banyak yang merasa lega karena akhirnya ada penjelasan, sekaligus berduka atas tahun-tahun yang dihabiskan untuk mempertanyakan diri sendiri.

Masking yang dilakukan bertahun-tahun juga tidak gratis. Penelitian menunjukkan bahwa camouflaging berkepanjangan berkaitan erat dengan kelelahan kronis, kecemasan, dan bahkan autistic burnout atau kondisi di mana seseorang mengalami kemunduran fungsi yang signifikan setelah terlalu lama memaksakan diri untuk “tampil normal”.

Jika kamu pernah mengalami momen ketika semuanya tiba-tiba terasa sangat berat dan kamu tidak bisa lagi berfungsi seperti biasa, mungkin itu bukan sekadar “stres biasa”.

Perasaanmu valid. Kelelahan itu nyata, bahkan ketika tidak ada orang yang melihatnya.

Autisme pada Perempuan Dewasa: Mengapa Sering Terlewat Terdiagnosis

Apa yang bisa kamu lakukan?

Mendapatkan diagnosis resmi adalah salah satu jalan, tapi bukan satu-satunya langkah yang berarti. Berikut beberapa hal yang mungkin bisa membantumu.

1. Mulai dengan memahami pengalamanmu sendiri

Membaca cerita perempuan autistik lain melalui buku, artikel, atau komunitas daring bisa menjadi titik awal yang kuat. Bukan untuk “mendiagnosis diri sendiri”, tapi untuk merasa dilihat dan tidak sendirian.

Banyak perempuan menyebut momen ini sebagai titik balik, ketika mereka akhirnya membaca deskripsi yang terasa seperti ditulis untuk mereka.

2. Cari profesional yang memahami profil perempuan

Jika kamu ingin mendapatkan evaluasi, carilah psikolog atau psikiater yang familiar dengan presentasi autisme pada perempuan dewasa. Ini penting, karena alat asesmen yang lama sering kali tidak sensitif terhadap profil ini.

Kamu boleh menanyakan pengalaman dan pendekatan mereka sebelum memutuskan untuk menjalani evaluasi.

3. Beri dirimu izin untuk beristirahat

Kamu tidak harus terus-menerus masking. Menemukan lingkungan atau orang-orang yang membuat kamu tidak perlu berpura-pura adalah bentuk perawatan diri yang sangat nyata.

Langkah kecil itu berarti termasuk mengurangi satu aktivitas sosial yang menguras energimu minggu ini.

Dan kalau kamu sedang dalam proses memahami perjalanan emosional yang lebih dalam, artikel tentang internalized stigma yang mungkin kamu bawa tanpa sadar mungkin juga bisa menemanimu.

Kamu bukan terlalu sensitif, kamu hanya belum cukup dilihat

Salah satu hal yang paling menyakitkan dari pengalaman perempuan autistik adalah betapa seringnya mereka diberitahu bahwa mereka “terlalu sensitif”, “terlalu kaku”, atau “kurang berusaha bersosialisasi”.

Padahal yang terjadi justru sebaliknya, mereka sudah berusaha sangat keras, setiap hari, dengan beban yang jarang terlihat oleh orang lain.

Ini bukan tanda kelemahan. Ini adalah bukti betapa tangguhnya kamu selama ini.

Jika ada bagian dari cerita ini yang terasa seperti milikmu, kamu tidak harus terburu-buru mencari label atau jawaban. Kamu boleh mulai dari rasa penasaran yang kecil. Boleh membaca lebih lanjut. Boleh membicarakannya dengan seseorang yang kamu percaya.

Pertanyaan yang mungkin bisa kamu bawa pulang adalah Apakah ada cara kamu selama ini “menyesuaikan diri” yang justru menguras energimu lebih dari yang kamu sadari?

Butuh bicara dengan seseorang?
Kamu tidak harus melewati ini sendirian.

Into The Light Indonesia — Hotline: 119 ext. 8 (24 jam)
Yayasan Pulih — (021) 788-42580

Meminta bantuan adalah tanda keberanian, bukan kelemahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *