Skip to content

Re-parenting: Belajar Mengasuh Dirimu Sendiri Dan 4 Cara Melakukannya

Ilustrasi figur dewasa duduk bersila memeluk figur kecil dengan lembut, menggambarkan konsep re-parenting atau mengasuh diri sendiri

PERHATIAN KONTEN: Artikel ini membahas, re-parenting, pengalaman masa kecil, pola pengasuhan, dan luka yang mungkin terbawa hingga dewasa, hingga cara mengasuh diri sendiri. Jika topik ini memunculkan perasaan yang berat, kamu boleh membacanya perlahan atau berhenti kapan saja. Kamu tidak harus menyelesaikannya dalam satu waktu.

Ada momen-momen tertentu ketika kamu menyadari bahwa kamu tidak tahu bagaimana cara bersikap baik pada dirimu sendiri. Mungkin saat kamu membuat kesalahan kecil, lalu suara dalam kepalamu langsung menghukum dengan keras, jauh lebih keras dari yang pernah kamu terima dari orang lain.

Atau saat kamu sakit, kamu tetap memaksa diri bekerja karena merasa tidak berhak beristirahat. Atau saat kamu sedih, tidak ada satu bagian pun dalam dirimu yang tahu bagaimana cara menenangkan dirimu sendiri.

Wajar kalau kamu merasa begitu. Cara kita memperlakukan diri sendiri seringkali adalah cerminan dari cara kita diperlakukan ketika kecil baik secara langsung maupun tidak.

Dan ketika pengasuhan yang kita terima dulu tidak cukup hangat, tidak cukup aman, atau tidak cukup hadir, kita tumbuh tanpa acuan tepat untuk mengurus diri sendiri.

Re-parenting adalah proses belajar menjadi orang tua yang baik bagi diri sendiri, ia memberi pengasuhan yang mungkin belum pernah kamu terima, dari dalam dirimu sendiri.

Apa itu re-parenting dan mengapa ia penting?

Re-parenting atau pengasuhan ulang diri adalah konsep dalam psikologi yang merujuk pada proses aktif memenuhi kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi di masa kecil.

Konsep ini diperkenalkan pertama kali dalam kerangka schema therapy oleh Jeffrey Young, dan kini banyak digunakan dalam berbagai pendekatan terapi untuk membantu orang dewasa yang membawa luka pengasuhan dari masa kecil.

Ini bukan tentang menyalahkan orang tua. Banyak orang tua melakukan yang terbaik yang mereka bisa dengan pemahaman dan kapasitas yang mereka miliki.

Re-parenting bukan tentang siapa yang salah tapi tentang apa yang perlu dipenuhi sekarang, oleh dirimu sendiri, agar kamu bisa tumbuh dan pulih.

Dan ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam semalam. Seperti perjalanan pemulihan yang lain, ia terjadi dalam langkah-langkah kecil yang menumpuk menjadi kemajuan nyata.

Tanda-tanda bahwa kamu mungkin butuh re-parenting

Kamu sangat keras terhadap diri sendiri saat membuat kesalahan

Jika kritik internal yang kamu berikan kepada dirimu jauh lebih kejam dari yang pernah kamu ucapkan kepada orang lain, itu bisa menjadi tanda bahwa ada suara pengasuh yang menghukum yang sudah terinternalisasi.

Bukan karena kamu memang seharusnya dihukum, tapi karena itulah yang pernah kamu pelajari sebagai respons terhadap kesalahan.

Kamu kesulitan mengidentifikasi dan mengekspresikan kebutuhan

Anak-anak yang kebutuhannya konsisten diabaikan atau dianggap tidak penting sering tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak tahu apa yang mereka butuhkan. Bahkan mereka bisa merasa bersalah ketika memiliki kebutuhan yang sebenarnya memang penting.

Kamu sulit menenangkan diri saat emosi memuncak

Self-soothing atau kemampuan untuk menenangkan diri sendiri adalah keterampilan yang dipelajari di masa kecil melalui hubungan dengan pengasuh yang responsif.

Jika keterampilan ini tidak pernah dimodelkan atau diajarkan, kamu mungkin merasa kewalahan oleh emosi yang intensitasnya tidak sebanding dengan situasinya.

Re-parenting: Belajar Mengasuh Dirimu Sendiri Dan 4 Cara Melakukannya

Praktik re-parenting yang bisa kamu mulai

1. Kenali kebutuhan inner child dalam dirimu

Langkah pertama adalah membangun kesadaran: apa yang dibutuhkan versi dirimu yang lebih muda dan belum terpenuhi?

Mungkin itu keamanan. Mungkin penerimaan tanpa syarat. Mungkin izin untuk membuat kesalahan tanpa dihukum. Atau sekadar ada seseorang yang mendengarkan.

Kamu bisa melakukan ini dengan cara sederhana. Ketika kamu bereaksi berlebihan terhadap sesuatu, tanyakan pada dirimu “Bagian diri mana yang sebenarnya terluka di sini? Apa yang ia butuhkan?”

2. Ubah cara kamu berbicara pada dirimu saat kesulitan

Bayangkan seorang anak kecil yang datang padamu setelah membuat kesalahan. Apa yang akan kamu katakan padanya?

Kemungkinan besar, kamu tidak akan menghukumnya dengan keras. Kamu akan menenangkan, menjelaskan, dan mendukung.

Coba berikan respons yang sama kepada dirimu sendiri. Ini bukan berarti tidak bertanggung jawab atas kesalahan, tapi mengakui kesalahan dari tempat yang hangat, bukan dari tempat yang menghukum.

3. Buat rutinitas yang memenuhi kebutuhanmu

Re-parenting juga berarti membangun struktur dan rutinitas yang dulu mungkin tidak ada. Tidur yang cukup, makan secara teratur, bergerak dengan cara yang terasa baik bagi tubuhmu.

Ia bukan sebagai hukuman atau kewajiban, tapi sebagai bentuk pengasuhan nyata yang kamu berikan kepada dirimu sendiri setiap hari.

4. Cari dukungan profesional jika luka terasa dalam

Untuk luka pengasuhan yang dalam, re-parenting sering kali paling efektif dilakukan bersama terapis. Pendekatan seperti EMDR, schema therapy, atau inner child work bisa membantu kamu memproses dan mengintegrasikan pengalaman masa lalu dengan lebih aman.

Re-parenting adalah tindakan berani

Memberikan kepada dirimu sendiri apa yang tidak pernah kamu terima membutuhkan keberanian yang luar biasa. Karena itu berarti mengakui bahwa ada yang hilang dan itu bisa menyakitkan.

Tapi itu juga berarti memilih, hari demi hari, untuk tidak terus meneruskan pola yang pernah merugikanmu. Ini bukan tanda kelemahan.

Ini adalah salah satu bentuk pemulihan yang paling dalam yang bisa kamu lakukan untuk dirimu sendiri. Kamu layak mendapatkan kasih sayang itu, bahkan jika harus kamu berikan sendiri, kepada dirimu sendiri.

Apa satu hal yang dibutuhkan versi dirimu yang lebih muda, sesuatu yang belum pernah ia dapatkan, yang mungkin bisa kamu mulai berikan kepada dirimu sendiri hari ini?

Butuh bicara dengan seseorang?
Kamu tidak harus melewati ini sendirian.

Into The Light Indonesia — Hotline: 119 ext. 8 (24 jam)
Yayasan Pulih — (021) 788-42580

Atau Komunitas dukungan di sekitarmu.

Meminta bantuan adalah tanda keberanian, bukan kelemahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *