PERHATIAN KONTEN: Artikel ini membahas internalized stigma, stigma terhadap kesehatan mental dan pengalaman malu yang mungkin kamu rasakan terhadap dirimu sendiri. Jika topik ini memunculkan perasaan berat, kamu boleh membacanya perlahan atau berhenti kapan saja.
Pernahkah kamu menemukan diri sendiri berkata dalam hati: “Masa untuk hal sekecil ini saja aku tidak kuat?” atau “Orang lain punya masalah yang lebih berat, aku tidak pantas mengeluh.”
Atau mungkin kamu sudah lama ingin mencari bantuan profesional, tapi ada suara yang berbisik bahwa kamu lebay, lemah, atau terlalu mendramatisir keadaan?
Jika iya, kamu mungkin sedang mengalami apa yang disebut internalized stigma atau stigma yang terinternalisasi. Ini bukan kelemahan karakter.
Ini adalah hasil dari bertahun-tahun hidup di lingkungan yang mengajarkan bahwa perasaan dan kesulitan psikologis adalah sesuatu yang memalukan.
Perasaanmu valid. Dan kamu tidak sendirian dalam pergulatan ini.
Apa itu internalized stigma?
Internalized stigma terjadi ketika seseorang menyerap dan mempercayai pandangan negatif dari masyarakat tentang kesehatan mental lalu menerapkannya pada diri sendiri.
Berbeda dengan stigma eksternal yang datang dari orang lain (misalnya: komentar meremehkan, diskriminasi, atau perlakuan tidak adil), internalized stigma adalah ketika kamu sendiri yang menjadi sumber penghakiman itu.
Ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, misalnya menolak untuk mencari pertolongan karena merasa tidak “cukup sakit” untuk layak mendapatkannya, menyembunyikan kondisi kesehatan mentalmu dari orang-orang terdekat karena takut dihakimi, atau merasa bahwa kamu “harusnya” bisa mengatasi semuanya sendiri tanpa bantuan siapa pun.
Di Indonesia, di mana narasi tentang kesehatan mental masih sering tumpang tindih dengan konsep ketabahan, iman, dan “jangan lebay”, internalized stigma tumbuh subur.
Bukan karena masyarakatnya jahat, tapi karena pemahaman tentang kesehatan mental memang belum merata di masyarakat.
Tanda-tanda internalized stigma yang perlu kamu kenali
Meragukan pengalaman diri sendiri
Kamu sering bertanya-tanya apakah apa yang kamu rasakan itu “nyata” atau sekadar berlebihan. Kamu membandingkan penderitaanmu dengan orang lain dan menyimpulkan bahwa milikmu tidak cukup berat untuk diakui.
Ini adalah tanda bahwa stigma sudah masuk ke cara kamu memvalidasi atau lebih tepatnya, tidak memvalidasi pengalaman dan perasaan dirimu sendiri.
Menghindari bantuan profesional
Banyak orang yang sudah mengetahui bahwa mereka membutuhkan bantuan, tapi terus menunda karena merasa malu. “Nanti orang tahu.” “Nanti dianggap gila.”
Penundaan ini bukan kemalasan, ini adalah ketakutan pada stigma yang menghalami diri mencari bantuan profesional.
Menggunakan bahasa yang merendahkan diri
Kata-kata seperti “aku memang lemah,” “aku terlalu sensitif,” atau “aku tidak normal” adalah tanda stigma yang sudah meresap ke dalam narasi diri.
Bahasa yang kamu gunakan untuk menggambarkan dirimu sendiri mencerminkan seberapa dalam stigma itu telah berakar di dalam dirimu.
Mengisolasi diri karena malu
Alih-alih mencari dukungan, kamu menarik diri karena tidak mau dilihat sebagai “orang bermasalah.” Ironisnya, isolasi ini justru memperparah kondisi yang ingin kamu sembunyikan.

Bagaimana stigma meresap tanpa kita sadari?
Stigma tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata kasar. Ia bisa hadir dalam kalimat yang tampak baik-baik saja: “Bersabar saja, nanti juga sembuh sendiri.” “Coba pikir hal positif.” “Banyak yang lebih susah dari kamu.”
Kalimat-kalimat ini, meski sering diucapkan dengan niat baik, secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa perasaan negatif adalah sesuatu yang salah dan harus dihilangkan, bukan dipahami.
Ketika pesan seperti ini diterima berulang kali sejak kecil, ia akhirnya menjadi suara di dalam kepala kamu sendiri. Inilah bagaimana internalized stigma terbentuk.
Ini terbentuk bukan dalam satu momen dramatis, tapi dalam akumulasi pesan kecil yang perlahan membentuk cara kamu memandang dirimu sendiri.
Langkah untuk mulai melepaskan stigma dari dalam diri
Sadari suara penghakiman itu
Langkah pertama adalah menyadari kapan suara stigma itu berbicara. Ketika kamu menemukan diri berpikir “aku tidak seharusnya merasa begini,” tanyakan, dari mana keyakinan ini berasal? Apakah ini suaramu sendiri, atau suara yang kamu pinjam dari lingkungan sekitarmu?
Teknik grounding bisa membantu kamu menciptakan jarak dari suara-suara itu. Jika kamu belum mengenalnya, ada cara sederhana untuk mulai mempraktikkannya.
Ubah bahasa yang kamu gunakan untuk diri sendiri
Ganti “aku lemah” dengan “aku sedang berjuang, dan itu manusiawi.” Ganti “aku berlebihan” dengan “aku merasakan sesuatu yang nyata dan layak untuk diperhatikan.”
Ini bukan sekadar afirmasi kosong, upaya ini adalah latihan aktif untuk mengubah narasi yang selama ini memenjarakanmu.
Cari informasi dari sumber yang tepat
Stigma tumbuh di atas ketidaktahuan. Semakin kamu memahami bahwa kondisi kesehatan mental adalah hal yang nyata, dapat dipahami, dan dapat ditangani serta bukan tanda kelemahan moral, maka semakin sulit bagi stigma untuk bertahan.
Mengenali tanda-tanda pemulihan adalah salah satu cara untuk mulai melihat bahwa perubahan itu mungkin.
Pertimbangkan untuk berbicara dengan profesional
Mencari bantuan bukan bukti bahwa kamu tidak kuat. Justru sebaliknya, ini dibutuhkan keberanian yang nyata untuk mengakui bahwa kamu butuh dukungan dan mengambil langkah untuk mendapatkannya. Kamu boleh memulai dari langkah yang paling kecil sekalipun.
Inklusi dimulai dari cara kita memperlakukan diri sendiri
Ketika kita berbicara tentang inklusi dalam kesehatan mental, kita tidak hanya berbicara tentang bagaimana masyarakat memperlakukan orang lain.
Kita juga berbicara tentang bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri, apakah kamu memberi dirimu ruang yang sama untuk berjuang, untuk meminta tolong, untuk tidak baik-baik saja.
Ini bukan tanda kelemahan. Ini adalah bagian dari menjadi manusia. Dan kamu layak mendapatkan ruang itu.
Pernahkah kamu menyadari suara dalam dirimu yang menghakimi kondisi mentalmu sendiri? Apa satu hal yang ingin kamu katakan kepada dirimu sendiri jika stigma itu tidak ada?
Butuh bicara dengan seseorang?
Kamu tidak harus melewati ini sendirian.Into The Light Indonesia — Hotline: 119 ext. 8 (24 jam)
Yayasan Pulih — (021) 788-42580Meminta bantuan adalah tanda keberanian, bukan kelemahan.
